Showing posts with label Polisi. Show all posts
Showing posts with label Polisi. Show all posts

Tuduh Presiden Lindungi Ahok, Kapolri Perintahkan Bareskrim Periksa Amien Rais

Mediaone. id - Jakarta,  Mantan Ketua MPR, Amien Rais nampaknya harus
berurusan dengan pihak berwajib usai orasinya yang
menuding Presiden Jokowi melindungi Ahok yang dituduh
menistakan agama Islam lewat Al'quran. Kapolri Jendral
Polisi Tito Karnavian menginstruksikan kepada
Bareskrim agar memeriksa Mantan Ketua MPR itu atas
tuduhannya terhadap Presiden yang merupakan Kepala
negara dan juga Simbol Negara.

Jendral bintang empat itu menganggap orasi yang
dikeluarkan oleh Amien Rais dinilai terprovokativ dan
juga menuding Presiden melindungi Ahok tanpa bukti
yang jelas.

Info Berita Politik Terpanas - Hal inilah yang membuat
Tito menginstruksikan agar Bareskrim untuk segera
memanggil Amien Rais guna dimintai keterangan soal
tudingannya terhadap Presiden Joko Widodo.

Ribuan massa dari berbagai Ormas Islam yang
melakukan aksi demo terhadap Gubernur DKI Jakarta,
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dituding
menistakan agama Islam soal pernyataan dari sang
Gubernur melalui ayat Al Maidah 51.

Amien Rais yang ikut turun kejalan dan bergabung
bersama ribuan massa ormas Islam ikut berorasi agar
Gubernur DKI itu segera ditangkap dan dimasukan
kedalam penjara karena menistakan ayat suci Al'quran.

Namun disela-sela orasinya yang mendesak pihak
berwajib terutama Bareskrim agar segera memeriksa
Ahok. " Presiden Jokowi jangan coba-coba untuk
melindungi Ahok yang sudah jelas-jelas menghina
Agama Islam". begitulah orasi Amien Rais ditengah-
tengah ribuan massa.

Ahok Tidak Mudah Dilengserkan, Anton Medan ke Amien
Rais : Ini Bukan Zaman Soeharto Bos..!!
Ucapan dari politisi dari PAN itu lantas membuat massa
lainnya terprovokasi oleh orasi dari Amien Rais dan
sekaligus membuat massa semakin panas.

Ucapan yang bernada sedikit mengancam dan juga
provokasi inilah yang menjadi alasan kuat bagi
Bareskrim untuk segera memanggil Amien Rais guna
memberikan keterangannya terkait dengan ucapannya
yang dinilai sebagi fitanh yang ditujukan kepada
Presiden.

"Saya sudah menginstruksikan kepada Bareskrim agar
segera memanggil dan memeriksa yang bersangkutan
untuk dimintai keterangannya terhadap tudingannya
itu kepada Presiden" ucap Tito

"Berorasi itu boleh-boleh saja, namun didalam orasinya
terdapat fitnah dan provokatif dengan menuding pak
Presiden melindungi Pak Ahok yang belum terbukti
benar dengan omongannya. Jadi saya kira yang
bersangkutan akan kami panggil untuk dimintai
keterangan" tambah mantan Kepala BNPT itu.(lontebola. com)

Ganggu Istri TNI, Polisi Di Makassar Jadi Amukan Warga

Mediaone. id - Kegaduhan rumah tangga seorang
anggota TNI AU, Praka WA benar-benar pecah.
Jumat (14/10) kemarin, Praka WA membuat
laporan ke Polsek Makassar.

Dalam laporannya, WA mengatakan kehidupan
rumah tangganya tak harmonis lagi karena
adanya orang ketiga. Tak berlama-lama, atas
pengembangan laporan itu, aparat Polsek
Makassar lalu menggerebek sebuah rumah di Jala
Kerungkerung.

Seperti dilansir dari Berita Kota Makassar, ruma
itu adalah kediaman mertua Praka WA. Hasilnya,
seorang pria berinisial AM yang juga seorang
anggota Polisi diamankan. Ikut pula diperiksa,
istri Praka WA.

Namun sesaat setelah diamankan, AM langsung
mendapat hadiah bogem mentah oleh sejumlah
warga dan pelapor juga memberikan hadiah
dengan menginjak kepala AM seorang oknum polis
yang menjadi terlapor dalam kasus ini, sebelum
tiba di kantor polisi. AM pun jatuh tergeletak di
jalan dan meminta maaf kepada sejumlah warga.
Kapolsek Makassar Kompol Saiful Alam enggan
berkomentar banyak soal kasus ini. Namun dia
tak mengelak kasus ini memang ada.

"Ada kejadian dan dilakukan pengamanan
terhadap terlapor yang diduga berselingkuh.Tapi
kami belum bisa menjelaskan motif kejadian ini.
Masih dalam penyelidikan,” singkat Saiful.

Source : tribunkota.com

Terlibat Scandal Kasus Gayus, Polisi ini Malah Diangkat Jadi Jenderal, Berikut Alasannya

Mediaone.id - Jakarta - Lama tak terdengar, Brigjen Raja Erizman tiba-tiba mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Divisi Hukum Polri. Dengan demikian, pangkat Erizman akan ditingkatkan menjadi jenderal bintang dua atau inspektur jenderal.

Seperti diketahui, Erizman pernah tersandung kasus makelar pajak Gayus Tambunan. Dia membuka blokir rekening Gayus yang berisi Rp 28 miliar. Saat itu dia menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipid Eksus) Bareskrim. Putusan sidang etik dan profesi memutus jebolan Akademi Polisi tahun 1985 ini tidak lagi duduk di Bareskrim.

Menanggapi hal ini, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan kasus yang membelit Erizman telah dinyatakan selesai.
"Artinya, tidak mungkin persoalan itu berlarut-larut kemudian tanpa akhir," kata Boy di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Kamis (6/10/2016).

Menurut Boy, masa hukuman Erizman ketika dicopot dari jabatannya sebagai Direktur II Pideksus sudah selesai dijalani. Apalagi, promosi jabatan yang diberikan kepada Erizman sudah melalui pertimbangan dari Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti).

"Istilahnya dia sudah diputihkan dan memiliki kesempatan atau hak yang sama melalui promosi jabatan. Jadi tidak selalu selama kariernya dihukum terus. Dalam sistem pembinaan kita, tidak seperti itu," terang Boy.

Sebagaimana tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Surat Telegram Rahasia Kapolri ‎ ST/2434/X/2016, tertanggal 5 Oktober 2016, Erizman menggantikan posisi Irjen Pol Setyo Wasisto.

Terseret Kasus Gayus

Ketika menjabat sebagai sebagai Direktur II Pideksus Bareskrim Polri menggantikan Brigjen Edmond Ilyas, Erizman menandatangani surat pembatalan pemblokiran rekening milik Gayus Tambunan.

Ia mengakui mengeluarkan surat permintaan pembukaan blokir rekening Gayus ke Bank Panin dan Bank BCA. Alhasil, uang Gayus sebesar Rp 28 miliar di rekening itu menyebar ke rekening lain.

Tindakan Erizman ini lantas direspons oleh jajaran Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. Sejumlah penyidik Bareskrim termasuk Erizman pun diperiksa. Tetapi, berdasarkan sidang kode etik, Erizman lolos dari sanksi kode etik alias tidak ditemukannya unsur pidana.

Dewan Kebijakan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi hanya mencopot Erizman dari jabatannya. Ia dikeluarkan dari fungsi reserse dan kriminal karena dianggap tidak cakap.

Seiring dengan itu, gejolak di internal tubuh kepolisian menyeruak. Kabareskrim saat itu, Komjen Susno Duadji menuding Erizman ikut mencicipi duit panas Gayus. Erizman lalu balik menuding bahwa pimpinannya Susno Duadji sebagai makelar kasus.

Source : Liputan6.com

Cerita Ilmu Kebal Jusuf Manggabarani Saat Ditantang Bos Preman PALOPO


Mediaone.id - "Biar Jusuf Manggabarani saja ke Palopo dari pada Kapolwiltabes Bandung. Enak benar dia di Bandung itu." Kata-kata itu dikeluarkan oleh seorang petinggi Polri yang mengatur penempatan personel.

Situasi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, tengah memanas. Jusuf digeser karena memiliki pengalaman di daerah konflik. Dia juga merupakan pria asli Makassar, kurang lebih mengetahui lokasi dan tabiat warga di kawasan tersebut. 

Satu pekerjaan rumah harus diselesaikan, yakni menghadapi begundal bernama Sukri. Sudah 16 tahun Sukri berkuasa. Tak ada satu pun polisi berani menerima tantangannya untuk baku tembak dari jarak dekat.

Bukan Jusuf namanya jika ciut menghadapi yang model begini. Saat itu dia berpangkat komisaris besar (Kombes). Dengan naik trail dan pakaian Brimob, Jusuf selempangkan senjatanya. Dia tancap gas membelah jalan raya menuju Mangkutana.

Sampai di lapangan Sukri sudah menunggu dengan senjata rakitan Pa'Poro. Jarak tembak maksimum 45 meter. Keduanya pun bersiap melepaskan timah panas. Hidup atau mati tergantung nasib.

Anak buah Jusuf diam-diam ikut. Sukri juga ditemani para loyalisnya. Lalu Jusuf membuka kancing bajunya. Ditunjuk dadanya sebagai sasaran tembak. 

"Terserah kamu mau tembak bagian mana yang enak-enak," tantangnya dikutip merdeka.com dari buku 'Jusuf Manggabarani Cahaya Bhayangkara' karya Nur Iskandar. 

Ajudan Jusuf gamang. Ada juga yang teriak, 'jangan komandan'. Yusuf membalas, "ah kau nonton saja," kata polisi yang pernah tugas di Aceh, Kalimantan dan Timor Timur ini.

"Isi pelurumu sebanyak-banyaknya! Pilih yang besar-besar agar mantap nembaknya," kata Jusuf sesumbar. 

Setelah semua siap suasana hening. Situasi berubah setelah terdengar letusan tembakan, dor, dor, dor. Ternyata Sukri lebih awal menembak. Tewaskah Jusuf? 

Ternyata timah panas itu berguguran di depan Jusuf. Semakin banyak peluru dimuntahkan, makin berjatuhan peluru itu. Para anggota pun bersorak melihat kejadian ajaib itu. Mereka terheran-heran dengan kemampuan sang komandan.

"Pelurunya jatuh tuh. Sekarang giliran saya ya," kata Jusuf membuat lutut Sukri gemetar. Dor! Sukri tak berdaya, lengannya ditembus timah panas.

Jusuf mendekati Sukri. Selongsong pelurunya dibuka lalu serbuk timahnya dibubuhi ke lubang tembakan. Dia menyuruh anak buahnya untuk membawa sang jagoan kampung ke rumah sakit.

Sesuai komitmen, jika kalah Sukri yang dikenal sebagai beking preman di kawasan perkebunan kakao berserta anak buahnya menyerah. Ada puluhan yang bertekuk lutut, tetapi lima saja yang diperiksa. Kepala desa juga diciduk karena terlibat kejahatan Sukri.

Sejak kejadian itu menyebar dengan cepat jika Jusuf punya ilmu kebal. Banyak yang datang 'menyembah-nyembah' Jusuf agar diturunkan ilmu tirai. Menurutnya, untuk menguasai ilmu itu harus memiliki nyali. "Kalau pelurunya nyampai betul wah tewas kita," ujarnya sambil tertawa.

Kapolda Sulawesi Selatan saat itu rupanya penasaran juga dengan kemampuan Jusuf. Dia bertanya langsung ketika Jusuf melaporkan kejadian tersebut. "Sebentar saja ditangani komandan. Diskresi di lapangan," kata Jusuf.

"Saya dengar kamu ada ilmu tirai?" tanya sang Kapolda.

"Ah itu ilmu naksir jarak saja komandan. Kalau mata kurang jelas itu sudah 60 meter. Saya suruh dia berdiri di jarak 60 meter. Saya mundur sedikit, maka aman," jawab Jusuf. 

Sang Kapolda pun tertawa mendengar itu. Jusuf memang dikenal agak nyeleneh, gimana tidak seorang Wakapolda meladeni tantangan Sukri si preman kampung.

Setelah itu kariernya terus melesat. Jusuf sempat menjadi Dansat Brimob, lalu Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sulsel (1994-2002). Pada 2004 dia menjabat sebagai Kadiv Propam, pada 2005 sebagai Irwasum.

Jusuf merupakan jebolan Akademi Kepolisian 1975. Dia pensiun dengan pangkat komisaris jenderal (Komjen). Jabatan terakhirnya adalah Wakapolri.

Source : merdeka.com

Menjelang Pilkada, Pemilik Akun Medsos Yang Sebarkan Provokasi Akan Ditangkap


Mediaone.id - Dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah Polri akan memantau aktivitas di media sosial . Salah satunya adalah dengan mengerahkan cyber patrol di media sosial.

"Kita kerahkan cyber patrol. Dari tiap Polda itu ada, termasuk Polres, dan Polri juga ada. Manakala ada berita yang berbau SARA, akan kita amati dan telusuri. Kalau itu intens menyebarkan isi provokatif, akan kami tindak dan tangkap pelakunya," ujar juru bicara Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto di gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2016).

Pernyataan tersebut disampaikan Rikwanto saat menghadiri diskusi Ancaman Pidana dalam Media Sosial Jelang Pilkada Serentak 2017 yang diadakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen dengan Biro Humas DPR RI. Rikwanto juga menyampaikan mengenai hukuman yang diterima para pelaku.

"Mengenai hukuman, tergantung apa isi tulisannya. Apakah itu akan terkena KUHP 310 atau 311 mengenai penghinaan, pencemaran nama baik atau UU ITE pasal 28 atau 45 tentang menyebarkan berita bohong dan menyebarkan konten kebencian," lanjut Rikwanto

"Apabila unsur pidananya masuk, akan dilakukan pelacakan intens, dan akan ditangkap pelakunya," sambungnya.

Ketua Bawaslu Muhammad menyatakan bahwa kendala yang dihadapi saat kampanye di media sosial adalah ulah para buzzer dan sulitnya mengendalikan jumlah akun yang bermunculan.

"Mau sehebat apapun alat untuk mengawasi, tetapi resistensi dari buzzer masih kuat. Menit ini kita blok, menit berikutnya muncul lagi," ujar Muhammad saat di Gedung Nusantara I DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2016).[detik/mediaone]

Saat Melaju Mobil Tidak Dapat Dikendalikan, Polwan Cantik Ini Jadi Korban Lakalantas


Mediaone.id - Bripka Anita meninggal dunia dalam kecelakaan di Tol Cipali. Mobil Avanza B 1255 TKQ yang dikemudikan Bripka Anita terguling dan masuk ke selokan di KM 125 jalur A, Sabtu (24/9/2016) sekitar pukul 10.05 WIB.


Bermula ketika polwan cantik yang bertugas di Ditlantas Polda Metro Jaya itu mengemudikan mobil dari arah Cikopo menuju Palimanan. Diduga, Bripka Anita mengantuk, sehingga tidak bisa mengendalikan kendaraannya dan terguling masuk selokan dengan posisi semua roda berada di atas.

Polwan cantik ini meninggal di tempat kejadian. Jasadnya langsung dibawa ke rumah sakit Indramayu dan sedang dalam penanganan Unit Laka Polres Indramayu.“Bripka Anita meninggal di lokasi. Jenazahnya dievakuasi ke rumah sakit di Indramayu,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus.

Source ; sebarkanberita.com

Seorang Polisi Dikeroyok Anak Punk, Untung Ada Edy

Mediaone.id - Anggota TNI Kopka Edy Mulyanto (43) berhasil menyelamatkan seorang polisi lalu lintas (polantas) dari amukan sejumlah anak punk.

Peristiwa itu terjadi di pos lalu lintas underpass Simpang Patal Palembang, 3 Maret 2015 lalu. Saat itu, Kopka Edy yang sedang mengendarai sepeda motor melihat anggota polantas sedang dikeroyok anak punk.

Diketahui, polantas tersebut bermaksud menghentikan aksi pemalakan yang dilakukan anak punk. Namun justru polantas itu malah menjadi korban pengeroyokan dan nyaris tewas.

"Pas saya lewat, polantas itu sedang dikeroyok banyak anak punk. Syukur, dia bisa saya selamatkan," ungkap Edy. Seperti dikutip dari laman Merdeka.com

Menurutnya, ketika polantas tersebut dikeroyok dia langsung membantu menyelamatkan. "Siapa yang tak kasihan lihat dia dikeroyok begitu, apalagi polisi yang lagi bertugas. Yang penting dia selamat," ujarnya.


Polisi Ini Perlihatkan Keberaniannya Saat Menggendong Dan Mencium King Cobra Raksasa

Aiptu Sapto Hadi

Mediaone.id - Sebagian besar manusia menganggap bahwa ular merupakan salah satu hewan yang paling menakutkan. Sebab ular dapat menyebabkan kematian bila bisa masuk ke tubuh.

Namun tampaknya ketakutan itu tidak berlaku bagi anggota Kepolisian Sektor Bogor Timur Resor Bogor Kota, Aiptu Sapto Hadi. Dia malah berteman dan bercengkrama baik dengan hewan karnivora itu.

Tak tanggung-tanggung Sapto berkawan dengan ular King Kobra. Sapto mengatakan, karena ingin lebih jauh mengenal dan menaklukkan King Kobra dia kemudian bergabung dengan Komunitas Indonesia Cobra Show (ICS). Dia bergabung dengan ICS sudah hampir tiga bulan.

Pada komunitas tersebut, Sapto berdiskusi tentang bagaimana cara dan teknik supaya ular tidak liar dan mematuk. 

Di waktu luang tugasnya sebagai anggota Polri, Sapto menyempatkan diri berlatih bersama komunitas ICS untuk bisa lebih dekat dengan sang raja ular ini. Dia juga sudah terbiasa mencium dan melilitkan ular itu di pundaknya.

"Butuh waktu agar kita dan ular bisa bersahabat. Pendekatannya pun perlu pelan-pelan dan hati-hati sehingga ular bisa menjadi jinak," ujar Sapto, dikutip dari Humas Polres Bogor Kota, Jumat (4/3).

Dia berharap melalui persahabatannya dengan ular kobra, mampu memberikan dampak positif terutama dengan anggota komunitas ICS dalam membina situasi Kamtibmas.

tes